Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Tari Piring

16 Jun
 
 
 
 
 
 
i
 
Rate This
Quantcast
Dengan  suara ensambel talempong yang dinamis. Tiga pasang penari memasuki panggung. Kedua belah tangan penari-penari membawa piring. Pola-pola lantai yang diambil dari gerakan-gerakan pencak diperagakan.
Bentuk penyajian tari piring ini dilakukan secara pasangan maupun kelompok dengan ragam gerakan yang sifatnya cepat dan dinamis serta diselingi bunyi piring berdentik yang dibawa oleh para penari. Biasanya tarian ini berdurasi tujuh menit dan  diiringi dengan musik tradisional dan dibawakan dengan apik, tarian ini banyak menggambarkan kegembiraan, kebersamaan, kesejahteraan,dan kemakmuran rakyat Minangkabau.
Ternyata, dalam khazanah kebudayaan Minang, tarian tersebut memiliki fungsi spiritual yang berarti “pemujaan” terhadap Dewi Padi dan penghormatan atas hasil panen. Tari ini sudah hidup subur diwilayah pesisir selatan dan Sumatra Barat.
Tari Piring
Tari Piring dari  Sumatera Barat (Minangkabau) sangat digemari pihak luar negeri. Karenanya, bila pernah tampil di suatu tempat, maka biasanya akan ada undangan lain yang menyusul untuk tampil di lokasi yang sama.
Hal yang menyebabkan tari Minang digemari pihak asing, adalah gerakannya yang enerjik,  bersemangat, aktraktif, dinamis serta  gerakan  yang tidak monoton menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Diambil dari beberapa sumber.
Tari Piring
Tari Piring

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Serampang Duabelas: Tari Tradisional Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara

April 25, 2009

Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta
Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta

A. Asal-usul
Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 (http://www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com). Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari (www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com; Sinar, 2009: 48).
Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang (Sinar, 2009: 48). Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih (Sinar, 2009: 49-52; www.wisatamelayu.com/id). Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas akan dibahas kemudian.
Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.
Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayu, terlihat dari gerak tari tradisionalnya (Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dapat kita lihat dari tarian Serampang XII yang iramanya tari lagu dua. Namun kecepatannya (2/4) digandakan, gerakan kaki yang melompat-lompat dan lenggok badan serta tangan yang lincah persis seperti tarian Portugis. Sebagai seorang penari tentu saya takjub dengan adanya kaitan budaya antara kedua negara ini, dan sebagai puteri Melayu Serdang, dalam khayalan saya bayangkan ketika guru Sauti menari di hadapan Sultan Sulaiman di Istana Kota Galuh Perbaungan. Sungguh betapa cerdas beliau dengan imajinasinya menggabungkan gerak tari Portugis dan Melayu Serdang, sehingga tercipta tari Serampang XII yang terkenal di seluruh dunia itu (Tengku Mira Sinar, www.waspada.co.id).
Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya (www.wisatamelayu.com/id).
Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang Duabelas ternyata berpengaruh positif terhadap perkembangan tarian ini. Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong (www.wisatamelayu.com/id).
Keberadaan Tari Serampang Duabelas yang semakin mendunia ternyata memantik kegelisahan sebagian masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Sumatra Utara pada umumnya. Kekhawatiran tersebut muncul karena dua hal. Pertama, persebaran Tari Serampang Duabelas ke berbagai daerah dan negara tidak diimbangi dengan transformasi kualitasnya. Artinya, transformasi Tari Serampang Duabelas terjadi hanya pada bentuknya saja, bukan kepada tekniknya. Menurut Jose Rizal Firdaus (Kompas, 1 Juli 2008), salah satu yang mengkhawatirkan dari perkembangan Tari Serampang Duabelas adalah pendangkalan dalam hal teknik menari. Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerah Deli Serdang yang memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar. Akibatnya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya.
Kedua, minimnya kepedulian generasi muda kepada Tari Serampang Duabelas. Meluasnya persebaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya kecintaan generasi muda Serdang Bedagai terhadap tarian ini. Kondisi ini tidak saja dapat menyebabkan Tari Serampang Duabelas hilang karena tidak ada penerusnya, tapi juga bisa hilang karena diklaim oleh pihak lain (Kompas, 1 Juli 2008).
Kedua fenomena tersebut harus disikapi secara cepat dan tepat agar Tari Serampang Duabelas tidak saja lestari, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Tari Serampang Duabelas. Pertama, menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai aset daerah. Artinya, pemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak diklaim oleh pihak lain, yaitu dengan mematenkan hak ciptanya.
Kedua, mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal. Dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai materi muatan lokal, maka anak-anak sejak dini diajarkan untuk mengetahui sejarah keberadaannya dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap geraknya. Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tari Serampang Duabelas.
Ketiga, menyelenggarakan perlombaan rutin Tari Serampang Duabelas. Menyelenggarakan perlombaan tari artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari. Dalam perlombaan, hanya yang terbaiklah yang akan menjadi juara. Untuk menjadi yang terbaik, setiap orang harus belajar dengan sungguh-sungguh agar mempunyai kemampuan menari yang lebih baik dari orang lain. Melalui strategi ini, setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang Duabelas secara baik dan benar. Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang Duabelas pada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik Tari Serampang Duabelas pada sisi yang lain.
Keempat, memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Para stake holder, khususnya pemerintah, perlu membuat terobosan agar para pelestari Tari Serampang Duabelas, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup secara salayak. Para pelestari kebudayaan kebudayaan tentu akan terus bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya jika apa yang dilakukan tidak saja secara normatif menjaga kelestarian budaya, tetapi juga secara praktis menjadi penopang keberlangsungan hidupnya. Seringkali warisan budaya dibiarkan terlantar karena “tidak memberikan” manfaat kepada pemiliknya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Musik dan Tarian Home Home > Info Korea > Budaya dan Seni > Musik dan Tarian 프린트

Musik dan tarian merupakan sarana ibadah, dan tradisi ini berlanjut terus selama periode
Tiga Kerajaan. Lebih dari 30 alat musik digunakan dalam periode ini, dan satu
yang khususnya patut dicatat adalah hyeonhakgeum (sitar berbentuk seperti burung bangau
berwarna hitam), yang diciptakan oleh Wang San-ak dari Goguryeo dengan mengubah sitar
bersenar tujuh dari Dinasti Jin dari Cina.

Hal lain yang perlu dicatat adalah gayageum, sitar yang digunakan di Kerajaan Gaya(42 – 562 M).
Alat musik gayageum yang terdiri dari 12 senar masih dimainkan di Korea modern.

Goryeo mengikuti tradisi musik Silla pada tahun-tahun awalnya, namun selanjutnya Goryeo
memiliki aliran-aliran yang lebih beragam. Ada tiga jenis musik di Goryeo – Dangak, yang berarti
musik dari Dinasti Tang di Cina, Hyangak atau musik pedesaan, dan Aak atau musik istana.


Pertunjukan ensembel musik klasik nasional menampilkan Sujecheon
(Hidup Panjang Seabadi Surga)

Beberapa jenis musik Goryeo merupakan warisan dari Dinasti Joseon dan masih
digunakan dalam upacara-upacara masa ini, terutama upacara-upacara yang melibatkan
pemujaan pada nenek moyang. Seperti halnya pada musik, pada mulanya Goryeo juga
menikmati tradisi tarian dari Tiga Kerajaan, namun kemudian Goryeo menambahkan jenis -
jenis lain dengan diperkenalkannya tarian istana dan tarian keagamaan dari Dinasti Song di Cina.

Pada jaman Dinasti Joseon, musik dihargai sebagai unsur utama ritual keagamaan dan
upacara-upacara. Sejak awal munculnya dinasti ini, dua lembaga yang menangani masalah
musik didirikan dan upaya-upaya ditempuh untuk menyusun komposisi-komposisi musik.

Hasilnya, sebuah kitab musik yang dikenal sebagai Akhakgwe-beom diterbitkan pada tahun
1493. Buku ini mengelompokkan musik yang akan dimainkan di istana menjadi tiga kategori –
musik upacara, musik Cina, dan musik pribumi. Terutama di saat Raja Sejong berkuasa,
banyak alat musik baru dikembangkan. Di samping musik istana, tradisi musik sekuler
seperti Dangak dan Hyangak terus berlanjut. Tari-tarian rakyat, termasuk tarian petani,
tarian dukun, dan tarian biarawan, menjadi populer di kemudian hari pada periode periode
Joseon, seiring dengan populernya tarian topeng yang dikenal dengan nama Sandaenori dan tarian boneka.

Alat musik perkusi untuk samulnori


Samulnori adalah sebuah pertunjukan musik ensembel menggunakan
empat alat musik yang berbeda: ggwaenggwari (gong besi kecil), jing
(gong besi besar), janggo (tambur berbentuk tabung jam pasir,
dan buk (tambur berbentuk seperti tong kayu).


       Ggwaenggwari                     Pungmul janggo               Jing                                  Soribuk
Tari topeng ini menggabungkan tarian dengan lagu dan cerita serta memasukkan unsur -
unsur syamanisme yang sangat menarik bagi rakyat biasa. Dalam penampilan tarian ini
penekanan sering diberikan pada ungkapan-ungkapan satiris yang mengolok-olok kaum
bangsawan sehingga menimbulkan kegembiraan bagi penonton yang menyaksikan
pertunjukan tersebut.

Sebaliknya, pengaruh-pengaruh Konfusius dan Budha sangat menonjol pada tarian tradisional.
Pengaruh Konfusianisme bersifat represif, sedangkan pengaruh Budha mengijinkan sikap
yang lebih toleran seperti ditunjukkan pada tari-tarian istana yang sangat indah serta tari-tarian
syaman yang ditujukan bagi orang yang telah meninggal.

Sejumlah besar tarian tradisional semakin berkurang selama masa penjajahan Jepang,
juga dikarenakan proses industrialisasi dan urbanisasi yang berlangsung sangat cepat
pada era 1960-an dan 1970-an. Baru pada era 1980-an orang mulai berpikir untuk menghidupkan
kembali tarian yang telah lama dilupakan ini. Dari 56 tarian istana yang asli, hanya sedikit yang
menjadi terkenal saat ini.

Cheoyongmu (Tari Topeng) dari Kerajaan Silla, Hakchum (Tari Bangau) dari Kerajaan Goryeo,
dan Chunaengjeon (Tarian Burung Bulbul di Musim Semi) dari Dinasti Joseon – seluruh
tarian ini telah dianggap sebagai ”Kepemilikan Budaya Non-Material”
(Intangible Cultural Properties) oleh Pemerintah sebagai upaya untuk mendukung
keberlangsungan hidupnya.

Para penari profesional telah memperoleh gelar ”"Harta Milik Budaya Manusia”"
(Human Cultural Properties), gelar tertinggi yang diberikan pada para pakar seni
dan kerajinan tradisional.

Berkembangnya tarian modern di Korea terutama disebabkan oleh para pelopor seperti
Jo Taek-won dan Choe Seung-hui yang aktif selama masa penjajahan Jepang.
Menyusul kemerdekaan Korea, Perusahaan Grup Balet Korea didirikan pada tahun 1946
sebagai organisasi pertama yang menampilkan pertunjukan balet.


Rain
Penyanyi, penari, model, dan aktor populer


Balerina Kang Sue-jin dengan Stuttgart Ballet
Musik Barat didengar untuk pertama kalinya di Korea dengan diperkenalkannya buku nyanyian
Kristen pada tahun 1893, dan mulai diajarkan di sekolahsekolah pada tahun 1904.
Changga, suatu jenis lagu baru dinyanyikan dengan iringan melodi musik Barat,
berkembang pesat di seluruh Korea.

Ketika Korea mengalami perubahan-perubahan besar yang disebabkan oleh dibukanya
Korea secara paksa terhadap pengaruh Barat dan penjajahan Jepang yang berlangsung
lama, changga dinyanyikan untuk memperkuat rasa cinta tanah air serta hasrat akan
kemerdekaan dan suatu wujud budaya yang baru. Pada tahun 1919, Hong Nanpa membuat
komposisi Bongseonhwa (Jangan Sentuh Aku) dalam bentuk changga.

Setelah Korea meraih kemerdekaan nasional pada tahun 1945, orkestra bergaya Barat
pertama di Korea diresmikan sebagai Perkumpulan Orkestra Simfoni Korea
(Korea Symphony Orchestra Society).

Kini terdapat hampir 50 orkestra lengkap di Seoul dan di propinsipropinsi di Korea.
Kini jumlah musisi Korea yang tampil di luar negeri semakin meningkat dan berhasil
memperoleh pengakuan dari para penikmat konser serta meraih penghargaan -
penghargaan bergengsi pada kompetisi-kompetisi internasional.
Di antara para musisi terkenal tersebut adalah Trio Chung, yang terdiri dari konduktor-pianis
Chung Myung-whun, pemain celo Chung Myung-wha, dan pemain biola Chung Kyung-wha.

Di antara para penyanyi, penyanyi soprano Jo Su-mi,Shin Young-ok, dan Hong Hye-gyong
telah mampu membuat kehadiran mereka dihargai dalam komunitas musik internas ional.
Merek a telah memainkan peranperan utama dalam produksiproduksi Opera Metropolitan
di New York serta pertunjukanpertunjukan lain yang terkenal, di samping melakukan rekaman
untuk perusahaan-perusahaan musik terkenal di dunia.

Pada bulan Agustus 1997, “Kaisar Wanita Terakhir,” sebuah pertunjukan musikal yang
menggambarkan tahun-tahun terakhir monarki Korea dan Kaisar Wanita Myeongseong,
ditampilkan di New York serta memperoleh pengakuan luas dari pers Amerika.
Pertunjukan musikal ini, yang berbentuk sebuah kisah kepahlawanan (epic tale),
dianggap telah memberikan kesempatan yang berharga demi memperkenalkan
sejarah dan budaya Korea di luar negeri.


Penyanyi Jo Su-mi


Konduktor-pianis Chung Myung-whun

Dalam rangka melestarikan dan mengembangkan musik dan seni pertunjukan
tradisional Korea, Pusat Nasional untuk Seni Pertunjukan Tradisional Korea
(National Center for Korean Traditional Performing Arts) didirikan pada tahun 1951.

Pemerintah mendirikan Universitas Seni Nasional Korea pada tahun 1993 dengan tujuan
memberikan pendidikan seni kelas dunia serta melatih seniman-seniman profesional.
Universitas ini memiliki enam fakultas: Musik, Drama, Tari, Seni Visual, Film & Multimedia,
serta Seni Tradisional Korea. Pusat-pusat seni baik umum maupun swasta,
seperti Pusat Seni Seoul dan Pusat Seni LG, telah memperkenalkan berbagai macam
pertunjukan dari seluruh dunia untuk dinikmati oleh masyarakat Korea.

Sejak tahun 2004, anggota Network Festival Seni Pertunjukan Korea telah bertukar informasi
mengenai seni pertunjukan, festival-festival yang menjadi objek penelitian, bersama-sama
mengundang pertunjukan-pertunjukan asing, serta bersama-sama membuat produksi.
Didirikan pada tahun 2005, Pasar Seni Pertunjukan (Performing Arts Market – PAMS) di Seoul
telah menjadi platform untuk mempromosikan perusahaanperusahaan seni pertunjukan Korea
(Korean Performs Art Companies) secara efektif pada pada wilayah domestik maupun internasional.


Kaisar Wanita Terakhir Sebuah pertunjukan musikal yang menggambarkan
kematian tragis sistem monarki di Korea serta Kaisar Wanita Myeongseong


Tari topeng, atau talchum, adalah suatu bentuk drama rakyat yang dinikmati
oleh rakyat biasa. Drama Madanggeuk (Teater Terbuka) bagian dari Dongnae Yaryu
(Pertunjukan Teater Terbuka)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Free Angel ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Free Angel ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Free Angel ani Cursors at www.totallyfreecursors.com